Rabu, 14 Maret 2012

Hathib bin Abi Baltha'ah RA



“Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami
di segala wilayah bumi
dan pada diri mereka sendiri,
hingga jelas bagi mereka
bahwa Al-Quran itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa
sesungguhnya Tuhanmu
menjadi saksi
atas segala sesuatu?
” [QS. Al- Fushshilat]"






Rasulullaah shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat untukmu, 


mintalah pertolongan Allah dan janganlah engkau lemah.
Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan engkau katakan:
Seandainya saya kerjakan ini niscaya akan jadi begini dan begitu, 


akan tetapi katakanlah bahwa Allah yang telah menetapkannya, 


apa yang Dia kehendaki Dia perbuat.
Karena sesungguhnya (kata-kata) “seandainya” membuka peluang bagi perbuatan setan.”
(HR. Muslim)





Hathib bin Abi Baltha'ah RA

Hathib bin Abi Balta'ah RA diutus oleh Nabi SAW membawa surat ajakan memasuki agama Islam kepada Raja Iskandariah Muqauqis. 


Kehadirannya disambut dengan baik oleh Muqauqis, ia dipersilahkan untuk menginap di istananya. Muqauqis mengumpulkan pembesar dan ahli perangnya untuk menemui Hathib. 


Setelah membaca surat dari Nabi SAW, terjadilah beberapa pembicaraan di antara mereka.
"Beritahukanlah kepadaku tentang sahabatmu itu, bukankah ia seorang nabi?" Tanya Muqauqis.
"Beliau adalah seorang utusan Allah," Kata Hathib mengawali, kemudian ia memberikan penjelasan lagi tentang Nabi SAW dan risalah yang dibawanya.
Muqauqis bertanya lagi, "Mengapa ia -dalam kedudukannya sebagai seorang nabi- tidak berdoa supaya kaumnya dibinasakan karena mereka telah mengusirnya dari kampung halamannya?"Hathib menjawab diplomatis, "Bukankah engkau percaya Isa bin Maryam seorang utusan Allah?"
Ketika Muqauqis mengiyakan, ia berkata lagi, "Mengapakah ia -ketika kaumnya ingin menyiksa dan menyalibnya- tidak mau berdoa untuk keburukan kaumnya, dengan memohon agar Allah membinasakan mereka, malah Allah mengangkatnya ke langit dunia?"
"Engkau adalah orang yang bijaksana, datang dari sisi orang yang sangat bijaksana." Kata Muqauqis.
Muqauqis belum bersedia memeluk Islam, tetapi tidak menghalangi dakwah Islam di Iskandariah dan sekitarnya. Karena itulah dalam sejarah tidak terjadi peperangan dengan Mesir. 


Muqauqis memberikan hadiah untuk Nabi SAW sebagai tanda persahabatan, berupa kain, baghal dan tiga hamba sahaya, dua wanita, yaitu Mariyah Qibtiyah yang dinikahi Rasulullah SAW, dan satunya lagi dihadiahkan Nabi kepada Hassan bin Tsabit al Anshari. 


Sedangkan hamba lelaki bernama Sirin, dihadiahkan Nabi kepada Muhammad bin Qais al Abdi. Nabi SAW membalas dengan memberikan hadiah-hadiah yang lebih baik dan menakjubkan kepada Muqauqis.