Rabu, 14 Maret 2012

Ngitung Dosa

Pernahkah kita menghitung dosa yang kita lakukan dalam
satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, bahkan
sepanjang usia kita ?.

Andaikan saja kita bersedia menyediakan kotak kosong,
lalu kita masukkan semua dosa-dosa yang kita lakukan,
kira-kira, apa yang terjadi ?

Saya menduga kuat bahwa kotak tersebut tak berbentuk
kotak lagi, karena tak mampu menahan muatan dosa kita.

Bukankah shalat kita masih " bolong-bolong " ?.
Bukankah shalat kita sering terlambat, dikerjakan mau
habis waktunya dan tidak khusyuk ? . Bukankah kita
pernah menahan hak faqir miskin ?

Bukankah kita pernah, bahkan sering berbohong,
mengingkari janji, bersumpah dengan sumpah yang palsu,
bersikap munafiq, mencerca manusia, mengejeknya,
menuduhnya, berburuk sangka padanya, iri hati, hasad,
mengobarkan rasa benci membenci ,dan dendam pada
seseorang ?

Bukankah kita pernah merasa diri paling benar, paling
pintar dari orang lain, ta'adjub, riya, sombong, marah
yang tak pada tempatnya, angkuh, congkak, hebat, dan
tinggi dari orang lain ?

Bukankah karena lidah kita, tangan kita, badan, kaki
kita, mata dan hati kita pernah menyakiti manusia
lainnya ?

Bukankah kita pernah menyelipkan kertas amplop pada
petugas administrasi demi untuk kelancaran urusan
kita, bermanis muka, lain di mulut, lain dihati,
bersikap munafik pada pejabat dan penguasa,
menyandarkan urusan padanya, agar kita dipandang
pegawai yang baik dan banyak kerja, pada hakikatnya
banyak yang tidak kita kerjakan, malah kita asyik
berdiri didepan computer, chatting dan melihat
situs-situs yang tidak baik, menghabiskan
waktu.memakan harta yang tidak berhak kita makan,
tanpa kita menyadarinya , bahwa hal itu bukan hak
kita.

Bukankah kita pernah menerima uang yang tak jelas
statusnya, sehingga pendapatan kita berlipat ganda ?

Bukankah kita sering tak mau menolong orang yang
meminta bantuan pada kita, menolong saudara kita yang
dalam kesulitan, walaupun kita sanggup menolongnya ?.
Daftar ini akan bisa semakin sangat panjang bila
diteruskan….

Lalu apa yang harus kita lakukan ?
Allah SWT berfirman dalam surat Az Zumar ( 39 : 53 )
" Katakanlah wahai hamba-hambaku yang melampaui batas
terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus
asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya ( kecuali syirik ). Sesungguhnya
Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang. "

Indah benar ayat ini, Allah menyapa kita dengan
panggilan yang bernada teguran, namun tidak diikuti
kalimat yang berbau murka.Justru Allah mengingatkan
kita untuk tidak berputus asa dari rahmat
Allah.Allahpun menjanjikan kita untuk mengampuni
dosa-dosa kita.

Karena itu, kosongkanlah lagi kotak-kotak yang penuh
tadi dengan taubat padaNya.Kita kembalikan kotak itu
seperti keadaannya semula, kita kembalikan jiwa kita
kepada jiwa yang fitri dan bersih.

Jika kita punya onta lengkap dengan segala
perabotannya, lalu tiba-tiba onta itu hilang, bukankah
kita sedih ?

Bagaimana pula jika onta itu tiba-tiba kembali
berjalan menuju kita lengkap dengan segala
perbekalannya, bukankah kita merasa bahagia ?

Rasulullah SAW bersabda : ketahuilah Allah akan lebih
senang lagi melihat hambaNya yang berlumuran dosa
kembali kepadaNya.

Allah berfirman : " kembalilah kamu kepada Tuhanmu,
dan berserah dirilah padaNya, sebelum datang azab
kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi ". (
Q. S. 39 : 54 )

Seperti onta yang sesat jalan, dan mungkin telah
tenggelam didasar lautan samudra, mengapa kita tak
berusaha berjalan kembali menuju Allah, dan menangis
di " kaki kebesaranNya ", mengakui kesalahan kita, dan
memohon ampunanNya.
Manusia itu lemah, rendah, dan tidak berdaya di hadapan Allah Tuhan semesta alam. 

Konsekuensinya, manusia dapat berbuat kesalahan sepanjang hidupnya. 
Oleh karena itu, manusia akan berusaha melakukan hal yang terbaik untuk menghindari dosa dan kesalahan. Sebagai hamba yang lemah dihadapan Allah, manusia tidak pernah lepas dari kesalahan.
Al Qur'an menyebutkan bahwa manusia selalu melakukan dosa dan kesalahan:
"Jika sekiranya Allah menyiksa manusia karena usahanya, niscaya dia tidak akan meninggalkan diatas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka sampai waktu yang tertentu. Oleh karena itu, ketika datang ajal mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat keadaan hamba-hambaNya". (QS. Fathir: 45)Ayat tersebut memerintahkan agar manusia selalu dan selalu memohon ampunan Allah. 

Itulah sifat yang membedakan antara orang mukmin dan orang kafir. 
Orang kafir selalu berusaha menutupi kesalahan dan dosa yang mereka lakukan sedangkan orang mukmin tidak pernah melakukan hal itu. 
Hal yang paling penting bagi orang mukmin adalah merasakan penyesalan dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada Allah seraya memohon ampunanNya. 
Dengan membaca Al Qur'an, manusia akan mendapati bahwa keinginan untuk memohon ampun pada Allah adalah suatu kewajaran.
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, beribadah dan memuji (Allah), melawat, ruku', sujud, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat mungkar dan memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang yang mukmin itu". (QS. At Taubah: 112)Memohon ampunan Allah adalah aspek keseharian dalam ibadah orang mukmin. 

Manusia dapat meminta ampunan sepanjang hari atas segala kesalahan dan dosa baik yang dilakukan dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Lebih jauh lagi, seperti halnya meminta ampunan bagi diri sendiri, orang mukmin dapat memintakan ampun bagi orang mukmin yang lainnya.
Dalam bahasa arab, istilah untuk meminta ampun adalah istighfar yang berarti menutupi, melindungi dan menyembunyikan semuanya atau mengembalikan pada keadaan semula. 

Taubat dapat dimaknai dengan "Kembali". 
Maksudnya berjanji tidak melakukan lagi suatu dosa tertentu.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al Ghozaly bahwa menyesali perbuatan yang telah lalu adalah kewajiban dari taubat, karena penyesalan ini adalah jiwa dari taubat.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya". (QS. At Tahrim: 8. )
Yang dimaksud murni dalam ayat tersebut adalah taubat yang semata-mata karena Allah dan tidak ada motif-motif lain yang mencampurinya. 

Bagi mereka yang mampu memurnikan jiwanya dari orientasi keliru dalam bertaubat, maka orang itu telah mengantongi salah satu tanda orang yang bertaqwa. 
Dalam diskripsi Al Qur'an, orang yang bertaqwa bukanlah orang yang sempurna tanpa cacat. 
Tetapi mereka yang setiap melakukan kealpaan, dia mengingat Allah kemudian bertaubat.
"Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS. Ali Imron: 135)

Wahai Tuhan Yang kasih SayangNya lebih besar dari
MurkaNya.Ampuni kami ya Allah.