Rabu, 14 Maret 2012

PUNK BERTAUBAT

KETIKA ANAK
PUNK BERTAUBAT 

Seorang anak muda bernama
Umar, tinggal di daerah Pemalang
Jawa Tengah. Dia dikenal sebagai
anak bergaya preman, dengan
potongan rambut “punk”,
bagian tengah atas kepala dari depan sampai belakang disisir
berdiri “njegrag” bagai jengger
ayam. Pemuda macam ini tidak
dekat dengan agama. Kata seorang yang silaturrahim
ke tempat saya, Umar banyak
mendapat halangan justru ketika
dia berubah jadi pemuda yang
taat beragama. Namun tamu ini
saat itu tidak banyak cerita bahwa Umar dulunya adalah
pemuda punker, karena Umar
sendiri ikut bertamu saat itu
dalam keadaan sudah
berjenggot, dan mengatakan
mau belajar ke pesantren. Lain kali setelah itu, tamu itu
datang lagi tanpa membawa
Umar. Dia bercerita bahwa Umar
sekarang sudah menjadi santri di
pesantren Bogor Jawa Barat.

Dia ceritakan, semula Umar adalah pemuda yang ikut-ikutan dalam
pengaulan anak muda, sampai
rambutnya pun dibuat bergaya
punk. (Yang namanya punk itu
asalnya adalah orang-orang
semacam gelandangan/ anak anak kuli di Amerika dan Inggris,
kemudian membentuk grup musik
The Ramones di Amerika dan Sex
Pistols di Inggris tahun 1970-an.
Mereka dulunya suka menyindir
pemerintah, kadang dengan kasar. Caya khasnya
berpotongan rambut seperti
jengger ayam disebut mohawk
ala Suku Indian, dan rambutnya
diwarnai dengan warna-warna
terang. Sekarang punk itu menjadi aliran musik yang
bercabang-cabang, dan dianggap
paling ngetrend di dunia dalam
musik rock. (Tulisan ini hanya
sekadar menjelaskan sifat, bukan
berarti menyetujui) Ketika Umar bergaya punk
seperti itu, orang-orang dan
masyarakat sekitar sampai
tokoh Islam bahkan orang
tuanya diam saja. Tetapi rupanya ada seseorang
yang mendekati Umar, dengan
menasihati dan mengajaknya ke
jalan yang benar, yaitu
mempeajari Islam dengan sedikit
demi sedikit, dan aqidah (keyakinan) yang benar sampai
ibadah dan akhlaq. Dalam tempo
yang tidak lama, Umar berubah
total.

Dan pemuda punker yang
berambut jengger, kemudian
menjadi pemuda berkopiah putih, berjenggot, bahkan berbaju
gamis putih dengan celana
jigrang/cingkrang (di atas mata
kaki) tetapi bukan LDII (Lembaga
Dakwah lslamiyah, yang dulunya
Islam Jama’ah, menurut penelitian Litbang Departemen
Agama, yang sudah difatwakan
sesat oleh MUI dan dilarang
Kejaksaan Agung 1971, lihat
buku Bahaya Islam Jama’ah,
Lemkari, LDII). Di saat Umar sudah meninggalkan
gaya punk dan beralih dengan
penampilan berpeci putih,
berjenggot, bergamis putih dan
bercelana cingkrang, ternyata
halangan dan gunjingan justru bertubi-tubi. Sampai-sampai ada
yang memegang kerah bajunya
dan siap menghantamnya. Yang
mau menghantamnya itu bukan
preman, tetapi justru tokoh
agama dari kalangan tradisional. Padahal Umar tidak mengganggu
mereka, hanya berpenampilan
untuk dirinya sendiri. Dia tidak
suka acara acara bid’ah juga
untuk dirinya sendiri. Lebih aneh lagi, ketika Umar
sedang tidur, tahu-tahu
jenggotnya dipegang orang
erat-erat dan mau dipotong.
Ternyata yang akan memotong
jenggot Umar ini adalah ibunya sendiri. Maka umar bangun, lalu
berkata:
“Bu, kalau saya mau jadi orang yang benar, justru dihalangi,
ketika jadi preman didiamkan.
Maka mari kita beli anggur berkrat-krat, nanti kita mabuk-mabukan di jalanan, sambil
berjoget-joget bersama, Bu.”

Sejak itu ibunya tidak
mengganggunya lagi. Kemudian
Umar mencari pesantren yang
bisa menampung dirinya untuk
belajar agama dengan gratis.
Karena dari orang tua tidak ada harapan. Umar kemudian
mendapatkan tempat untuk
belajar seperti apa yang ia
inginkan. Alhamdulillah Rabbil
Alamin.